Tampilkan postingan dengan label manfaat outbound. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label manfaat outbound. Tampilkan semua postingan

DISAIN OUTBOUND

Seperti umumnya pada sebuah kegiatan atau program acara, hal utama yang harus di ciptakan terlebih dahulu adalah mendisain sedemikian rupa, mengurutkan sedetail mungkin, meramu selengkap lengkapnya dari A sampai Z berbagai unsur yang berkenaan dengan kegiatan atau program tersebut.  Yang tujuan akhirnya adalah kelancaran dan kesuksesan.

Begitu juga halnya dengan program outbound, segala hal yang berkenaan dan berhubungan dengan seluruh rangkaian kegiatan harus mampu anda uraikan satu persatu. Mulai dari pemilihan tema hingga pemberian penghargaan kepada peserta yang berhasil adalah beberapa kriteria yang perlu di perhatikan dengan serius.

Secara umum dalam kegiatan mendisain suatu program outbound khususnya bagi organisasi yang mengutamakan hasil dari kegiatan ini, tentunya bekerjasama dengan konsultan outbound dapat di lakukan dengan langkah - langkah sebagai berikut :
  • tentukan tema utama kegiatan
  • tentukan hasil yang ingin di capai
  • tentukan durasi waktu kegiatan
  • tentukan profile peserta
  • tentukan lokasi yang sesuai dan mendukung
  • tentukan jenis permainan
  • tentukan bentuk penghargaan dan hukuman
  • tentukan tim kerja internal
  • tentukan investasi
Alangkah baiknya bila langkah - langkah di atas dapat diuraikan secara detail dan terperinci. Selain menjamin suksesnya kegiatan outbound yang akan dilaksanakan, tidak lain adalah juga untuk mempermudah tim kerja atau kepanitiaan dalam memonitor seluruh kegiatan.

Karena kegiatan outbound adala sebuah investasi mendasar bagi perusahaan dalam rangka prosesl pengembangan sumber daya manusia disamping unsur untuk penyegaran beban kerja yang berlebihan, sangat di anjurkan jadikanlah kegiatan outbound ini sebagai kegiatan yang rutin di adakan minimal 1 tahun 2 kali.

Yang pertama sangat dianjurkan dilaksanakan di awal tahun yang bertujuan untuk menyamakan cara berpikir masing - masing anggota organisasi dalam mencapai target organisasi. Dan yang kedua adalah menjelang akhir tahun yang memiliki 2 manfaat yakni sebagai sebuah bentuk perhargaan atas tercapainya target organisasi atau sebagai media evaluasi dalam memaksimalkan waktu yang tersisa guna mencapai target organisai sebelum tahun berjalan berakhir.

Selamat outbound !!
"Ciptakan tim yang hebat melalui Outbound"

    MANFAAT OUTBOUND

    Sekilas, outbound memang terkesan sebagai aktivitas santai-santai belaka. Bagaimana tidak? Habis, aktivitasnya hanya berkutat diseputar permainan yang seru dan menyenangkan. Dilakukannya pun dalam suasana santai. Namun demikian, jangan diremehkan kegiatan yang satu ini. Soalnya, dibalik image santai dan senang-senang, ada segudang manfaat yang bisa dipetik dari kegiatan outbound ini

    Belakangan ini, banyak perusahaan yang tidak segan-segan mengeluarkan dana ekstra untuk 'mengirim karyawannya ke tempat-tempat terpencil seperti ke daerah pegunungan. Sambil  berekreasi, para peserta outbound juga belajar. Tetapi, jangan dibayangkan pembelajaran dalam suasana formal, dengan sederetan kursi dan pengajar yang sibuk cuap-cuap di depan kelas.

    Sebaliknya, metode yang digunakan sangat mengasyikkan banget. Lokasinya biasanya berada diluar ruangan alias outdoor. Tidak heran, kalau metode belajar yang dilakukan juga lebih bersifat petualangan dan permainan. Bahkan seringkali ada peserta yang tidak menyadari, bahwa mereka sebenarnya sedang 'dididik'. Kegiatan semacam ini punya banyak nama. Ada yang menyebutnya company outing, adventure education, team building, motivation training, outbound, dan sebagainya. Pasti Anda pernah dengar kan….?

    .Antara lain, bisa mempererat kekompakan antar karyawan. Hampir semua kegiatan outbound selalu dilakukan secara berkelompok. Untuk bisa menyelesaikan suatu tantangan, diperlukan banget kerja sama tim.

    Dengan terciptanya semangat kerjasama dan perasaan senasib sepenanggungan, maka solidaritas akan muncul dengan sendirinya. "Outbound juga bisa menghilangkan gap antara karyawan lama dengan karyawan baru yang sering terjadi. Kalau senior beserta junior berada disatu tim, mau nggak mau mereka 'dipaksa' melakukan segalanya bersama-sama. Yang tadinya mungkin di kantor hanya sekedar tahu nama, setelah outbound mereka akan lebih akrab," jelas Salman.

    Beragam tingkat kesulitan dalam permainan juga dapat membangun sikap pantang menyerah dan menumbuhkan rasa percaya diri (self-confidence) dalam diri peserta, terutama saat mereka berhasil menyelesaikan permainan. Keberanian dalam menghadapi tantangan dan mengambil resiko pun akan terbangun selama peserta mengikuti outbound.

    Manfaat outbound lainnya adalah dapat mengasah kemampuan bersosialisasi. Pada saat bergabung dalam sebuah tim, peserta akan bertemu dan bekerjasama dengan orang-orang yang mungkin memiliki kepribadian berbeda dengan dirinya. Kondisi tersebut akan menjadikan peserta lebih menghargai perbedaan disekitarnya.
    Disamping itu outbound juga dapat :
    •  Meningkatkan kemampuan mengenal diri dan orang lain
    • Melatih ketahanan mental dan pengendalian diri
    • Menumbuhkan empati
    • Melahirkan semangat kompetisi yang sehat
    • Meningkatkan jiwa kepemimpinan
    • Mampu mengalisa kelemahan diri  dan orang lain dan tidak menjadikan sebagai kendala untuk berhasil
    • Meningkatkankemampuan mengambil keputusandalam situasi sulit secara tepat dan cepat
    • Membangun rasa percaya diri
    • Meningkatkan rasa kebutuhan akan pentingknya kerjasama tim untuk mencapai sasaran secara optimal
    • Investasi jangka panjang
    Kalau begitu, apa keuntungannya bagi perusahaan? Masa sudah mahal-mahal membiayai, yang mendapat manfaatnya hanya karyawan. Sebenarnya, kegiatan outbound merupakan investasi jangka panjang bagi perusahaan karena permainan dalam outbound mengandung berbagai 'nilai terselubung' yang dapat meningkatkan kualitas SDM. Justru secara tidak langsung perusahaanlah yang akan memetik keuntungan.

    Sebagai contoh, kekompakan karyawan semasa outbound akan terbawa ketika karyawan sudah kembali ke dunia kerja. Jadi dalam menghadapi tantangan, mereka akan lebih solid. Tentunya, iklim organisasi yang kondusif seperti ini akan meningkatkan kinerja para karyawan yang dapat memajukan perusahaan.

    Kalau suasana kantor penuh keakraban, perusahaan bisa berharap akan terciptanya peningkatan kinerja dan performa yang lebih baik, kan? Dalam benak kita pun akan tertanam bahwa segala keberhasilan maupun kegagalan merupakan tanggung jawab bersama.
    “Together Everyone Achieves More [TEAM]"

    sumber : www.parabusoutbound.com

    CORPORATE OUTBOUND

    Dekade 5-7 tahun terakhir, Outbound training menjadi salah satu primadona training di Indonesia. Banyak manajemen perusahaan yang melirik danmenginvestasikan training karyawannya melalui outbound training atau Management Outbound. Metode experential learning yang satu ini mampu menghadirkan nuansa baru dengan kemasan berbeda dibanding training konvensional selama ini, hanya di dalam kelas, formal dan membosankan.

    Bermain tapi bukan main-main. Fun tapi full learning point. Inilah unsur lebih management Outbound training yang ditawarkan. Balajar melalui proses mengalami sendiri, berinteraksi secara intens sambil belajar dengan rekan sehari-hari dalam pekerjaan melalui simulasi game yang dilakukan di alam terbuka, adalah pengalaman penuh makna.

    Dalam tulisan kali ini, saya tidak akan menyoroti Outbound training dari konsep dan konten secara mendetail. Namun lebih pada pandangan klien selama ini dan peta kebutuhan terhadap Outbound training. Paling tidak, sejauh pengamatan dan pengalaman berinteraksi dengan para klien pengguna jasa Outbound training ini, klien terbelah menjadi dua kubu. Pada dua kutub yang berbeda.

    Kubu yang pertama melihat bahwa result Outbound training tidak jelas. Ciri ungkapan maupun pertanyaan yang sering terlontar adalah apa manfaatnya Outbound training? Sejauh mana efektifitasnya? Kok paling banter perubahan yang terjadi paling lama bertahan 1 bulan saja, bahkan hanya 2-3 minggu? Padahal investasiyang telah dikeluarkan tidaklah kecil, mengingat Outbound training ini biasanya diikuti oleh peserta yang relatif besar jumlahnya.

    Sementara kubu yang lain melihat bahwa outbound training adalah sesuatu bentuk pembelajaran yang menarik dan positif. Outbound training atau Management Outbound bagi mereka mampu menawarkan solusi untuk mengurai akar dari kekusutan ’benang kerjasama tim’yang mulai koyak bahkan hampir putus. Sekali putus, berabe sekali efeknya,karena melibatkan banyak pihak yang saling mengait di dalamnya. Tak ayal klien tetap saja selalu mencari atau membutuhkan Outbound training ini. Apalagi dimasa akhir tahun semacam ini, Outbound training sangat dicari meski kadang bermertamofosis menjadi outing (salah satu agenda penting dalam employee gathering maupun rapat kerja).

    sumber : kraengadhy.blogspot.com

    HIGH ROPE

    Dalam sebuah kegiatan Outbound training, sepertinya tidak lengkap bila tidak ada High Rope Games. Permainan ini sendiri termasuk dalam kategori High Impact, sehingga dibutuhkan peralatan yang memadai, tingkat keamanan yang tinggi dan juga tenaga operator maupun instruktur yang mempunyai pengalaman yang cukup untuk memainkan games ini.

    High rope course adalah media yang sangat baik untuk Outbound dan team building, juga sebagai tantangan personal. Penggunaan high rope course memberikan rasa nyata pada petualangan dan keberhasilan.

    Permainan di atas ketinggian dengan tali sebagai medianya adalah permainan tantangan individu yang diadaptasi dari pelatihan militer. Permainan ini dilakukan dengan cara meluncur, berjalan, ataupun melompat dari ketinggian tertentu.

    Meluncur dengan flying Fox! Berjalan pada seutas tali di ketinggian! Melompat memukul target di ketinggian 10 meter! Bagaimana rasanya ya?...Yang jelas anda akan mendapatkan pengalaman yang berbeda. Nyali anda akan ditantang dalam game ini. Dan akan lebih seru lagi kalau lintasannya tinggi dan panjang. Yups!... . Wow... pastinya anda tidak akan rugi mencoba permainan ini.
    Menjadi seperti Tarzan dan Jane, berayun di ketinggian? Setiap orang memiliki kesempatan untuk bersenang-senang di lingkungan yang aman. Ada tantangan spektakuler high-ropes di mana Anda bisa merasakan sensasi yang aman.

    Tujuan permainan ini adalah :
    • Melatih peserta untuk cepat mengambil keputusan
    • Melatih keberanian
    • Merubah pola pikir
    • Memberi pengalaman baru pada peserta Outbound
    • Meningkatkan dan membangun kepercayaan diri
    • Mempunyai pemahaman yang lebih baik pada kekuatan dan kelemahan orang lain
    Hal yang harus diperhatikan :
    • Keamanan
    • Pengalaman instruktur Outbound
    • Games ini beresiko tinggi, sehingga diharapkan untuk tidak melakukan coba-coba/bereksperimen hal yang tidak perlu
    Mengambil keputusan dengan cepat dan tepat dan berani berkata "ya" atau "tidak".
     

      MANFAAT OUTBOUND



      Secara umum manfaat kegiatan Outbound dapat digunakan untuk meningkatkan ketrampilan interpersonal maupun intrapersonal peserta Outbound. Karena memang dalam aktivitas Outbound tantangan yang dihadapi selalu memaksa setiap peserta untuk mengukur diri atau bercermin tentang kemampuan fisiknya, keyakinan mentalnya dan kecerdasan berpikirnya.
      Manfaat outbound secara umum :

      Manfaat psikologis
      Pelaksanaan Outbound selalu dilaksanakan dengan aktifitas petualangan di alam terbuka, maka ciri utamanya : adanya resiko yang nyata dalam kegiatan, tantangan yang ada bukan merupakan aktifitas yang dilakukan oleh orang umum, dan kegiatan Outbound mengandung ketidakpastian yang tinggi.

      Pengalaman yang didapat dalam kegiatan Outbound :
      • Pengalaman menghadapi tantangan yang beresiko
      • Pengalaman mengelola takut yang bergejolak
      • Pengalaman mengukur kemampuan diri
      • Pengalaman menumbuhkan keberanian mencoba sesuatu yang baru
      • Pengalaman mendapatkan keberhasilan melewati tantangan
      Pengalaman Outbound diatas akan terekam dan teringat dipikiran dalam rentang waktu yang lama dan berdampak positif secara psikologis, antara lain :
      • Menumbuhkan rasa percaya diri
      • Meningkatkan pemahaman tentang konsep diri
      • Meningkatkan harga diri (Self efficacy)
      • Meningkatkan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan baru
      • Meningkatkan keberanian untuk menguji kemampuan diri
      • Memberikan sensasi positif saat mencoba hal baru
      Manfaat sosiologis
      Pelaksanaan Outbound selalu melibatkan beberapa orang atau kelompok. Sehingga ada pengalaman berinteraksi dengan orang lain dalam menghadapi tantangan yang sama, pengalaman itu antara lain:
      • Pengalaman dibantu teman saat dalam kesulitan
      • Pengalaman berkomunikasi dengan teman baru
      • Pengalaman saat harus berbagi dengan teman lain
      • Pengalaman harus bekerja secara kelompok
      • Pengalaman saat mendapat apresiasi positif dari teman
      • Pengalaman saat mendapat dukungan dari teman
      • Pengalaman saat mendapat masukan dari teman
      Pengalaman – pengalaman diatas berdampak sosiologis, antara lain :
      • Mengembangkan sikap peduli pada orang lain
      • Mengembangkan kemampuan komunikasi
      • Mengembangkan rasa memiliki
      • Mengembangkan kemampuan untuk memberi umpan balik positif
      • Mengembangkan kemampuan untuk membangun persahabatan
      • Mengembangkan kemampuan untuk mengendalikan diri
      Manfaat edukasional
      Pelaksanaan Outbound yang bebasis alam akan dijadikan media implementasi pengetahuan teori yang di dapat pserta Outbound, sehingga timbul pengalaman :
      • Pengalaman menjaga kebersihan lingkungan bermain
      • Pengalaman menanam pohon untuk menjaga kelestarian
      • Pengalaman menyelesaikan masalah dalam permainan
      • Pengalaman diskusi tentang perjalanan kegiatan outbound
      • Pengalaman membuat perencanaan sebelum kegiatan
      • Pengalaman presentasi akhir tentang hasil kegiatan
      • Pengalaman refleksi tentang permainan
      Pengalaman diatas memberi manfaat edukasional. yang meliputi ketrampilan dan pengetahuan dengan hal – hal berikut di bawah ini :
      • Mengembangkan pengetahuan tentang pendidikan outdoor
      • Meningkatkan pengetahuan tentang konservasi alam
      • Meningkatkan kesadaran pentingnya daya dukung lingkungan dalam kehidupan
      • Meningkatkan tanggungjawab dalam melestarikan lingkungan
      • Mengembangkan kemampuan dalam menyelesaikan masalah
      • Mengembangkan penguasaan akademis
      • Meningkatkan kesadaran dan klarifikasi nilai kehidupan
      Manfaat phisikal
      Pelakasanaan kegiatan diluar ruang dapat dipastikan memerlukan aktifitas fisik yang lebih besar, sehingga memberikan rangsangan pembelajaran yang lebih optimal :
      • Pengalaman menyelesaikan tantangan permainan tali
      • Pengalaman menyelesaikan trekking
      • Pengalaman menjaga kebugaran tubuh
      • Pengalaman mengelola kelelahan tubuh
      Dari pengalaman diatas, peserta diharapkan akan mendapatkan manfaat dan hasil positif dari kegiatan Outbound, antara lain :
      • Meningkatkan kesegaran jasmani
      • Mengembangkan ketrampilan organ tubuh
      • Mengembangkan kekuatan tubuh
      • Melatih kemampuan koordinasi gerak tubuh
      • Memberikan porsi latihan tambahan
      • Mengembangkan keseimbangan tubuh
      Manfaat spiritual
      Manusia diciptakan Allah dilengkapi dengan : AKAL QOLBU NAFSU. Akal, adalah materi organik yang berdaya logis. Materi ini bekerja untuk memilih, menganalisa, membandingkan informasi dari obyek nyata, kejadian, dan lain-lain. Secara umum fungsi dari akal adalah :
      • Menggali pengetahuan dengan nalar
      • Menyimpan pengetahuan
      • Menyimpulkan hal yang belum diketahui dengan pengetahuannya
      • Menggabungkan berbagai informasi menjadi informasi baru
      Qolbu, merupakan materi organik yang berdaya emosi. materi ini bekerja meneruskan suara Ilahiyah (dari ruh), berpihak pada hal yang baik dan memutuskan untuk berperilaku. Fungsi qolbu :
      • Menggali pengetahuan dengan daya cita rasa
      • Menjadi pusat kesadaran moral
      • Menjadi pusat kesabaran
      • Menjadi pusat kekuatan dari Tuhan
      Nafsu, komponen yang ada dalam diri manusia yang memiliki kekuatan untuk mendorong melakukan sesuatu atau tidak. Karena itu manusia selalu dalam pengaruh dan dorongan untuk melakukan sesuatu atau dorongan untuk menghindari sesuatu.
      Contoh dorongan untuk melakukan sesuatu :
      • Menjadi seorang yang berprestasi
      • Menjadi seorang ketua
      • Menjadi seorang yang terbaik
      Contoh dorongan untuk menghindari sesuatu :
      • Malas
      • Boros
      • Curang
      • Tidak mau mematuhi peraturan
      Kaitannya dengan aktifitas Outbound, ketiga materi (AKAL NAFSU QOLBU) mempunyai peran berupa pengalaman :
      • Muncul pengetahuan baru, pemahaman baru, ide atau inspirasi baru, dari hasil kerja akal. Contoh : Pemahaman tentang kenapa alam diciptakan untuk manusia ?
      • Munculnya rasa keberanian, ketakutan, kasih sayang, kebencian, kegembiraan, contoh : Tumbuhnya rasa cinta dan peduli dengan alam sekitar
      • Munculnya keinginan untuk berperan dalam menjaga kelestarian alam
      • Munculnya keinginan untuk berperan mengurangi polusi yang merusak kelestarian alam sekitar
      Dari pengalaman diatas, peserta diharapkan akan mendapatkan manfaat secara spiritual dari hasil positif mengikutu kegiatan Outbound, antara lain :
      • Meningkatkan keinginan selalu berbuat sebaik mungkin pada diri sendiri maupun orang lain
      • Meningkatakn sikap berani, tangguh dan pantang menyerah dalam menghadapi setiap masalah yang ada
      • Selalu mempunyai kesadaran bahwa apapun kesuksesan yang didapatnya selalu karena atas keterlibatan dan kemurahan Tuhan
      Outbound merupakan kegiatan yang berbasis petualangan di alam bebas dengan menunjang 3 aspek : cognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotorik (tindakan), yang kemudian diharapkan akan memotivasi keberhasilan seseorang.
      Keberhasilan seseorang ditentukan oleh :
      • 45 % attitude (sikap / moral)
      • 10 % knowledge (pengetahuan)
      • 20 % practice (praktek)
      • 25 % skill (ketrampilan)
      Outbound sebagai metodologi akan berjalan efektif bila mengacu pada :
      • perkembangan psikomotorik
      • perkembangan intelektual
      • perkembangan emosional
      sumber : www.outboundmalang.com

      APA SIH OUTBOUND?

      Setiap proses Outbound selalu terkait dengan 3 area pengembangan :
      1. Area cognitif (pengetahuan)
      2. Area afektif (sikap)
      3. Area psikomotorik (tindakan)
      Aktifitas Outbound bisa mencakup 3 area diatas, karena aktifitas outbound melibatkan secara langsung faktor – faktor :
      • Fisik
      • Emosi
      • Pengetahuan
      • Pengalaman
      • Spiritual
      Aktifitas atau kegiatan yang dilakukan dalam Outbound :
      • Permainan
      • Berpetualang
      • Refleksi diri
      • Simulasi ketrampilan
      • Tantangan rope course tinggi dan rendah
      • Debriefing, diskusi dan afirmasi positif
      Itupun nantinya Outbound akan diklasifikasikan menurut tingkat perkembangan psikomotorik, intelektual dan emosional. Secara aplikasi dapat di bagi :
      • Outbound Siswa TK – SD
      • Outbound Siswa SLTP
      • Outbound Siswa SLTA
      • Outbound Mahasiswa
      • Outbound Umum (karyawan, pegawai, kelompok tertentu)
      • Outbound Keluarga (Family gathering)
      Berdasarkan peralatan yang digunakan dan tingkat kesusahannya, Outbound dibagi menjadi 3, yaitu :
      1. Low Impact
      2. Middle Impact
      3. High Impact
      Nah, sekarang kira-kira anda ingin mengikuti kegiatan Outbound yang mana??

      sumber : www.outboundmalang.com

      OUTBOUND = TERAPI

      Apakah anak berkebutuhan khusus pada kegiatan outbound dapat menyimak dengan baik dari pada aktivitas sebelumnya? Misalnya saja anak penyandang autisme. Mereka itu mempunyai masalah dalam otaknya "adanya kekacauan dalam otak".

      Latar belakang  Bangsa Indonesia terdiri dari beragam suku dan bahasa daerah yang memiliki ciri khas tersendiri. Walaupun demikian, masyarakat Indonesia tetap menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi dan bahasa perhubungan atau pergaulan dan sebagai bahasa pengantar dalam proses pembelajaran di sekolah dalam berkomunikasi dengan sesama.

      Sebagai makhluk sosial manusia menggunakan bahasa untuk berkomunikasi lisan maupun tulisan. Semua itu tidak terlepas dengan empat keterampilan berbahasa, yaitu keterampilan menyimak, berbicara,  membaca, dan menulis. Setiap keterampilan itu erat hubungannya dengan proses berpikir  yang mendasari bahasa. Oleh karena itu, keempat keterampilan berbahasa itu merupakan satu kesatuan yang saling menunjang.

      Ketika manusia lahir ke dunia sudah dilengkapi dengan alat artikulasi dan pelajaran pertama yang didapat dari seorang ibu adalah bahasa. Setiap anak yang lahir dengan alat artikulasi dan auditori normal akan dapat mendengarkan katakata dan menirukan dengan baik. Bagi anak yang mempunyai kelainan pada alat artikulasi dan auditorinya akan mengalami kesulitan dalam berbahasa. Manusia yang normal fungsi otak dan alat bicaranya, tentu dapat berbahasa dengan baik. Namun, mereka yang memiliki kelainan fungsi otak dan alat bicaranya, tentu mempunyai kesulitan dalam berbahasa baik produktif maupun reseptif (Chaer, 2003: 148).

      Setiap anak membutuhkan bimbingan berkomunikasi, dan dukungan lebih dari orangtua dan lingkungan sosialnya. Dengan begitu mereka akan tumbuh dan berkembang secara alami. Karena dalam mengajarkan bahasa dalam berkomunikasi pada anak bukan cuma sekedar mengajar kata, melainkan diperoleh melalui proses menyimak makna setiap kata secara alami. Proses menyimak itu dimulai dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan masyarakat penutur bahasa.

      Bahasa dapat menjembatani antara anak dengan orangtua dan anak dengan lingkungan sosial. Dunia anak sering kita sebut masanya bermain. Bermain merupakan suatu proses belajar sehingga mereka dapat merasa-kan gembira, sedih, senang, dan merasakan kenyamanan serta belajar bersosialisasi dengan teman-temannya. Oleh karena itu, setiap mereka bermain di situlah anak belajar berkomunikasi untuk menyatakan keingin-an, pendapat, dan gagasannya secara alami.

      Begitu pula bagi anak-anak penyandang autisme. Mereka termasuk ke dalam anak berkebutuhan khusus atau special need. Berdasarkan per-aturan yang ditetapkan dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengenai hak dan kewajiban warga negara pada pasal 5 menyatakan bahwa warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus. Oleh karena itu anak penyandang autisme pun membutuhkan hal yang sama dengan anak-anak normal lain-nya. Salah satunya yaitu jenjang pendidikan.

      Anak berkebutuhan khusus ini persis anak-anak lainnya, hanya saja mereka memiliki keterbatasan kemampuan dalam hal belajar dan berko-munikasi. Khususnya anak penyandang autisme, mereka memerlukan be-lajar yang relatif lama dalam berkomunikasi, pola perilaku, dan interaksi sosial serta untuk mampu mengerti diri mereka sendiri dan berusaha me-respon instruksi guru. Mereka juga membutuh kasih sayang, motivasi dan pengakuan dari sekitar. Oleh karena itu, perlu penanganan khusus pada tahap perkembangannya agar dapat menjalani kehidupan layaknya anak-anak lain. Seperti halnya anak penyandang autisme di Sekolah Alam, mereka masuk dalam kelompok anak berkebutuhan khusus (special need).

      Sekolah Alam memberikan kegiatan pembelajaran yang menantang bagi siswanya. Salah satunya adalah outbound. Kegiatan outbound ini se-bagian besar aktivitasnya merupakan aktivitas fisik dapat disebut juga permainan yang bersifat petualangan. Kegiatan outbound ini, ternyata yang paling digemari oleh anak-anak Sekolah Alam. Kegiatan outbound juga tidak hanya disuguhi untuk anak-anak regular (TK, SD) saja, tetapi anak berkebutuhan khusus pun ikut merasakan kegiatan itu.

      Metode yang digunakan dalam outbound ini adalah belajar melalui pengalaman (exsperiental learning). Adrianus dan Yufiarti (2006: 42), mengatakan Pada dasarnya kegiatan ini menganut prinsip learning by doingtrial and refinement (belajar sambil mengulang-ulang dan berusaha untuk memperbaiki) serta lifelong learning. (belajar sambil melakuakan sesuatu), (belajar sepanjang hayat)

      Proses belajar dengan outbound pada anak berkebutuhan khusus  disesuaikan dengan kurikulum outbound di Sekolah Alam Tanah Baru. Proses belajar dengan outbound dilaksanakan setiap seminggu satu kali. Walaupun outboundnya sudah ditentukan, tetapi dalam pelaksanaan kegiatan belajar dengan outbound pada anak berkebutuhan khusus dise-suaikan dengan tingkat kesulitan dan resiko pada masing-masing individu. Hal itu diungkapkan pula oleh Greatline sebuah lembaga outbound training dan adventure, memaparkan bahwa outbound jika dilihat berdasarkan tingkat resiko, permainan outbound dibagi tiga yaitu: Risiko rendah (Low Impact), Risiko sedang (middle impact), dan resiko tinggi (High Impact).

      Mereka dapat belajar secara alami dan bersosialisasi dengan lingkungannya di kegiatan outbound. Menurut Ardianus dan Yufiarti (2006: 44) ”outbound sebagai permainan kecerdasan.” Oleh karena itu, berbagai manfaat didapat mereka dalam proses belajar mengajar dengan kegiatan outbound. Seperti halnya outbound sebagai sarana untuk melatih dalam mengembangkan fungsi mata, telinga, dan latihan otot. Anak penyandang autis dapat melatih memfokuskan diri dalam memecahkan masalah saat kegiatan berlangsung. Kegiatan itu juga dapat menimbulkan rasa percaya diri pada anak.  Adrianus dan Yufiarti mengatakan:

      Metode outbound ini sangat efektif karena memanfaatkan seluruh potensi dalam diri siswa melalui berbagai aktivitas permainan. Dengan demikian kegiatan outbound ini tidak hanya mengembangkan kemampuan kognitif siswa, tetapi juga melibatkan ranah afektif dan konasi (psikomotor) (2006: 42).

      Outbound memberikan pengaruh dalam pengembangan kreativitas anak penyandang autisme dalam menentukan keputusan yang akan diambil. Misalnya pada anak penyandang autisme menjadi lebih konsentrasi dalam mendengarkan setiap instruksi yang diberikan oleh guru dan fasilitator dalam setiap outbound. Walaupun, dalam jangka waktu yang relatif lama dalam merespon semua rangsangan. Selain itu Ancok memperjelas lagi dalam bukunya Outbound Management Training (2003: 3), bahwa metode pelatihan di alam terbuka juga digunakan untuk kepentingan tera-pi kejiwaan (Gass, Adventure Therapy, 1993). Lanjutnya lagi pelatihan ini digunakan untuk meningkatkan konsep diri anak-anak yang nakal, anak pencandu narkotika, dan kesulitan di dalam hubungan sosial.

      Aktifitas outbound  juga dapat menjaga otak agar terus bergerak dalam melaksa- nakan kegiatan. Adrianus dan Yufiarti (2006: 44) mengatakan bahwa ”selain itu outbound terdapat, unsur-unsur pengembangan kreativitas, komunikasi, mendengarkan efektif, kerjasama, motivasi diri, kompetisi, problem solving dan percaya diri.” Oleh karena itu, perlu diada-kan penelitian mengenai pengaruh outbound terhadap kemampuan menyimak dalam mematuhi aturan pada anak penyandang autis.

      Para pendidik di Sekolah Alam Bogor khususnya kelompok anak berkebutuhan khusus atau disebut Learning Support Center terdiri dari guru kelas, dan guru pendamping atau sering disebut dengan aide teacher’s. Khusus Level A setiap anak mempunyai satu aide teacher dan satu guru kelas. Keadaan akan berbeda saat kegiatan outbound berlangsung terdiri dari guru kelas, aide teacher’s, dan instruktur outbound. Ketika outbound guru, aide teacher, dan instruktur dalam kegiatan outbound sangat ber-peran sebagai mitra memotivator siswa. Oleh karena itu, mereka semua memainkan peranannya dalam hal memotivasi anak penyandang autisme.

      Guru kelas, aide teacher’s, dan instruktur outbound masing-masing sudah memiliki kompetensi di bidangnya. Seperti halnya instruktur outbound memiliki kompetensi yang sudah disesuaikan dengan tugasnya. Begitu juga dengan guru kelas dan aide teacher’s minimal sudah mengikuti pelatihan mengenai pelaksanaan outbound di Sekolah Alam. Seperti yang dikatakan oleh Adrianus dan Yufiarti dalam jurnalnya mengenai kompetensi guru:

      Kompetensi guru yang dipersyaratkan dalam pelaksanaan outbound antara lain pernah mengikuti kegiatan pramuka dan pencinta alam, memiliki pengetahuan tentang olah raga, diharapkan pernah mengikuti pelatihan outbound. Selain itu guru diharapkan dapat me-rancang kegiatan dan memanfaatkan lingkungan sosial dan alam sekitar (Adrianus dan Yufiarti, 2006: 43).

      Sehubungan penjelasan di atas peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian terhadap kemampuan menyimak dalam mematuhi ins-truksi guru pada anak berkebutuhan khusus autisme level A Learning Support Center (LSC) Sekolah Alam Tanah Baru Bogor.

      Penelitian dengan judul ”Kemampuan Menyimak dalam Mematuhi Instruksi Guru pada Kegiatan Outbound Anak Berkebutuhan Khusus Autisme Level A Learning Support Center (LSC) Sekolah Alam Tanah Baru Bogor”, diharapkan dapat menunjukkan hasil yang positif bagi perkembangan motorik pada anak penyandang autisme. Untuk itu diperlukan adanya latihan terhadap sensorik motor. Salah satu latihannya, yaitu berupa kegiatan belajar mengajar dengan outbound.
      "Outbound  Hight Impact merupakan Terapi untuk kejiwaan"

      sumber : www.widhoy.multiply.com

      MANFAAT OUTBOUND

      Kegiatan belajar di alam terbuka seperti outbound bermanfaat untuk meningkatkan keberanian dalam bertindak maupun berpendapat. Kegiatan outbound membentuk pola pikir yang kreatif, serta meningkatkan kecerdasan emosional dan spiritual dalam berinteraksi. Kegiatan ini akan menambah pengalaman hidup seseorang menuju sebuah pendewasaan diri.

      Pengalaman dalam kegiatan outbound memberikan masukan yang positif dalam perkembangan kedewasaan seseorang. Pengalaman itu mulai dari pembentukan kelompok. Kemudian setiap kelompok akan menghadapi bagaimana cara berkerja sama. Bersama-sama mengambil keputusan dan keberanian untuk mengambil risiko. Setiap kelompok akan meng-hadapi tantangan dalam memikul tanggung yang harus dilalui.

      Tujuan outbound secara umum untuk menumbuhkan rasa percaya dalam diri guna  memberikan proses terapi diri (mereka yang berkelainan) dalam berkomunikasi, dan menimbulkan adanya saling pengertian, sehingga terciptanya saling percaya antar sesama.  Ancok pun menegaskan dalam bukunya Outbound Management Training (2003: 3) bahwa:

      Metode pelatihan di alam terbuka juga digunakan untuk kepentingan terapi kejiwaan (lihat Gass, 1993). pelatihan ini digunakan untuk meningkatkan konsep diri anak-anak yang nakal, anak pencandu narkotika, dan kesulitan di dalam hubungan sosial. Metode yang sama juga digunakan untuk memperkuat hubungan keluarga ber-masalah dalam program family therapy (terapi keluarga). Afiatin (2003) dalam penelitian disertasinya telah menggunakan pelatihan outbound untuk penangkalan pengguna obat terlarang (narkoba). Dalam penelitiannya Afiatin menemukan bahwa penggunaan metode outbound mampu meningkatkan ketahanan terhadap godaan untuk menggunakan narkoba. Selain itu dilaporkan pula oleh Afiatin, penelitian yang dilakukan oleh Johnson dan Johnson bahwa kegiatan di dalam outbound training dapat meningkatkan perasaan hidup bermasyarakat (sense of community) diantara para peserta latihan.

      Tujuan outbound menurut Adrianus dan Yufiarti, dalam jurnal Memupuk Karakter Siswa melalui Kegiatan Outbound  (2006: 42) adalah untuk:
      • Mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan diri siswa
      • Berekspresi sesuai dengan caranya sendiri yang masih dapat diterima lingkungan
      • Mengetahui dan memahami perasaan, pendapat orang lain dan menghargai perbedaan
      • Membangkitkan semangat dan motivasi untuk terus terlibat dalam kegiatan-kegiatan
      • Lebih mandiri dan bertindak sesuai dengan keinginan
      • Lebih empati dan sensitif dengan perasaan orang lain
      • Mampu berkomunikasi dengan baik
      • Mengetahui cara belajar yang efektif dan kreatif
      • Memberikan pemahaman terhadap sesuatu tentang pentingnya karakter yang baik
      • Menanamkan nilai-nilai yang positif sehingga terbentuk karakter siswa sekolah dasar melalui berbagai contoh nyata dalam pengalaman hidup
      • Mengembangkan kualitas hidup siswa yang berkarakter
      • Menerapkan dan memberi contoh karakter yang baik kepada lingkungan
      Dari uraian di atas jelas bahwa outbound  bertujuan sebagai proses terapi individu dan terapi keluarga atau kelompok yang mengalami kesenjangan. Terapi individu misalnya pada anak yang mengalami penyimpangan seperti anak nakal, anak pemakai narkoba, anak yang mengalami gangguan hubungan sosial (anak berkebutuhan khusus). Sedangkan terapi keluarga atau kelompok yang mengalami kesenjangan sosial sehingga membutuhkan penyegaran (refresh). Baik dengan mengadakan rekreasi dan atau mengadakan kegiatan outbound. Misalnya saja pada sebuah kelompok atau lembaga mengadakan kegiatan outbound setahun sekali dalam rangka meningkatkan rasa kebersamaan, meningkatkan kualitas karyawan dan perusahaan.

      Kegiatan outbound individu atau kelompok akan mendapatkan manfaat yang beragam. Mulai dari menambah pengalaman baru. Memacu rasa keberanian. Membagun rasa kebersamaan. Komunikasi yang efektif antarsesama. Bertindak sesuai dengan situasi dan kondisi. Memahami setiap kelebihan maupun kekurangan yang ada pada dirinya maupun orang lain. Dapat menimbulkan rasa saling menghargai dalam setiap keputusan. Selain itu juga outbound bermanfaat sebagai proses berlatih memacu cara berpikir seseorang agar selalu sistematis.

      sumber : www.widhoy.multiply.com

      OUTBOUND = BELAJAR

      Outbound adalah kegiatan di alam terbuka. Outbound juga dapat memacu semangat belajar. Outbound merupakan sarana penambah wawasan pengetahuan yang didapat dari serangkaian pengalaman berpetualang sehingga dapat memacu semangat dan kreativitas seseorang. Oleh karena itu, Kimpraswil menyatakan bahwa outbound adalah usaha olah diri (olah pikir dan olah fisik) yang sangat bermanfaat bagi peningkatan dan pengembangan motivasi, kinerja dan prestasi dalam rangka melaksanakan tugas dan kepentingan organisasi secara lebih baik lagi (www.kimpraswil.go.id)

      Kegiatan outbound berawal dari sebuah pengalaman sederhana seperti bermain. Bermain juga membuat setiap anak merasa senang, dan bahagia. Dengan bermain anak dapat belajar menggali dan mengembangkan potensi, dan rasa ingin tahu serta meningkatkan rasa percaya dirinya. Oleh karena itu, bermain merupakan fitrah yang dialami setiap anak.

      Pengalaman merupakan guru dalam proses pembelajaran secara alami. Misalnya, seorang anak mengalami proses alami bermain. Hal itu  dalam rangka menambah dan mengembangkan pengetahuan dari setiap pengalamannya. Jadi, tidak menutup kemungkinan siapapun berhak bermain baik anak-anak, remaja, orang dewasa ataupun orang tua. Karena belajar dari sebuah pengalaman dalam aktivitas bermain dijadikan sebagai sarana pembelajaran yang menyenangkan yang dapat dilakukan di ruangan terbuka atau tertutup.

      Berdasarkan latar belakang tersebut outbound merupakan perpaduan antara permainan-permainan sederhana, permainan ketangkasan, dan olah raga, serta diisi dengan petualangan-petualangan. Hal itu yang akhirnya membentuk adanya unsur-unsur ketangkasan, dan kebersamaan serta keberanian dalam memecahkan masalah. Seperti halnya Iwan menegaskan bahwa “permainan yang disajikan dalam outbound memang telah disusun sedemikian rupa, sehingga bukan hanya psikomotorik (fisik) peserta yang ’tersentuh’ tapi  juga afeksi (emosi) dan kognisi (kemampuan berpikir). -  www.peloporadventure .co.id

      sumber : www.widhoy.multiply.com